27 Oktober 2008

Open Source bukan IGOS

Kebijakan pemerintah menyebarkan budaya menghormati copyright software seyogyanya berhasil melalui program IGOS. Tapi sangat disayangkan terjadi salah kaprah pengambilan kebijakan, karena dengan program IGOS yang menghabiskan dana rakyat ratusan juta rupiah sekarang seolah-olah ada kesan di masyarakat bahwa open source itu adalah linux.

Padahal open source jauh lebih luas dan lebih fleksibel daripada linux. Karena linux hanya merupakan sebagian kecil dari produk open source. Jangan terkecoh oleh linux, memang betul linux berkembang pesat terutama di daratan eropa karena faktor kebangsaan (harus diakui pembuat linux itu orang eropa tulen darin findland jadi merasa memilikinya sangat tinggi). Walaupun masyarakat awan akan bingung kalau disuruh memakai linux, karena puluhan distro linux ada didunia ini. Linux mana yang baik? Persoalan ini ditambah lagi oleh program IGOS yang meluncurkan linux turunan (tiruan) dari fedora. Apa tidak lebih baik fedora saja daripada IGOS-Linux? Ditambah sistem operasi turunan unix ini sebenarnya kurang familier bagi para pemula dan pengguna komputer pada umumnya, sehingga gap atau permasalahan bagi pengguna makin membludak.

Jadi bagaimana dengan pengguna Indonesia yang sudah terlanjur enak dengan Windows? apa tidak ada yang semudah Windows dan open source?

Jawabannya ada dan mudah sekali, yaitu sistem operasi reactOS, yang satu ini gratis dan kompatible dengan Windows. Artinya penggunaanya tidak jauh berbeda dengan Windows, dan hampir semua software yang biasa banyak digunakan di windows (CorelDraw, AdobePhotoshop, Office) masih tetap jalan juga di sistem operasi gratis reactOS.

Program semacam CorelDraw saja bisa jalan, apalagi program buatan kita, sangat mungkin bisa dijalankan di reactOS.

Jadi tunggu apalagi?
Kenapa harus linux melulu, kenapa tidak coba reactOS?
Kita coba sendiri dulu, dan publikasikan kepada teman-teman kita bahwa ada sistem operasi gratisan sekaliber microsoft windows XP.
Masyarakat jelas sudah terbiasa dengan Windows, jadi integrasi ke reactOS jauh lebih tepat daripada ke linux yang banyak sekali versinya.


Buka mata, Buka telinga, Buka Hati, kita coba reactOS rame-rame.
Oke.

1 komentar:

Ana Hadiana mengatakan...

Belum sempurna... cepat selesaikan!